|
MAKALAH
PGRI Pada Masa Orde Baru
Makalah ini untuk memenuhi tugas mata
kuliah Ke-PGRI-an
yang dibina oleh Drs. Soepoyo Ristianto
Oleh
Briandika
Doni .A. 12144600132/ A4-12
Yuni
Lestari 12144600139/ A4-12
Diah
Ayu Retnaningsih 12144600140/
A4-12
Windri
Ratna Peni 12144600157/
A4-12
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak lahirnya orde baru
tahun 1967 hingga berakhirnya tahun 1998. PGRI sebagai komponen Orde Baru,
menikmati masa-masa perkembangan dan sekaligus stabilitas dan kekohesifan pada
intern organisasi. Stabilitas ini secara simbolis direpresentasikan, antara
lain pada kepengurusannya. Setelah melewati empat periode kepemimpinan di
bawah M.E. Subiadinata sebagai Ketua Umum PB-PGRI (1956-1969) yang diseling
oleh Slamet I menyusul wafatnya M.E. Subiadinata tahun 1969. PB PGRI dipimpin
oleh Basyuni Suriamiharja selama enam periode (1970-1998).
Akan tetapi, seperti
dikemukakan terdahulu, periode ini mencatat sisi lain dari perjalanan PGRI,
yaitu hubungan mesra organisasi ini dengan pemerintah yang mempekerjakan para
guru. Disamping memiliki aspek-aspek positif, kedekatan hubungan ini juga pada gilirannya agak menyulitkan posisi PGRI
sendiri dalam memperjuangkan nasib guru. Sangat jelas pula terlihat bahwa pada
periode Orde Baru, sifat PGRI sebagai organisasi yang unitaristik, independen,
dan non-partai politik agak terabaikan penegakannya, atau mungkin
diartikulasikan secara berbeda dengan ketika sifat organisasi ini pertama kali
dirumuskan. Bersama para pegawai negeri sipil lainnya (juga TNI/ABRI), PGRI
sebagai organisasi raksasa yang sangat efektif
Selama periode ini, yakni
pada masa tersebut sulit bagi sebuah sebuah organisasi sebesar PGRI untuk
menghindar dari berbagai tekanan politik yang begitu hebat dan sistematis pada
era Orde Baru, tentu saja dengan segala dilemanya bagi PGRI. Tekanan politik
dimaksud telah memaksa hampir semua organisasi (apalagi dengan jumlah anggota
yang raksasa seperti PGRI), bahkan termasuk juga partai politik, untuk tidak
mampu mengambil jalan sendiri diluar koridor yang ditentukan oleh Orde Baru.
Bahkan dapat dikatakan bahwa justru dengan mekanisme adaptasi seperti itu, PGRI
dapat tetap bertahan dan kuat selama era ini. Model kepemimpinanyang sejuk dan
kooperatif yang ditampilkan oleh Basyuni Suriamiharja tampaknya memang cocok
untuuk masa tersebut.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa tugas utama
KAGI?
2.
Bagaimana konsolidasi organisasi pada awal orde baru?
3.
Apa arti lambang PGRI?
4.
Bagaimana proses berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru?
5.
Bagaimana refleksi tentang masa depan PGRI?
C. Tujuan
A.
Menjelaskan tugas utama
KAGI.
B.
Menjelaskan konsolidasi
organisasi pada awal orde baru.
C.
Menjelaskan arti lambang
PGRI.
D.
Menjelaskan proses
berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru.
E.
Menjelaskan refleksi tentang masa depan PGRI.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)
Peristiwa G30 S/PKI merupakan
puncak dari apa yang sebelumnya berlangsung dalam tubuh PGRI, yaitu perebutan
pengaruh antara kekuatan anti-PKI dn pro-PKI, infiltrasi dan fitnah oleh kelompok
pro-PKI, berdirinya PGRI Non-Vaksentral dan lain-lain. Setelah terjadinya
peristiwa tersebut, PGRI-Kongres (yang dibedakan dari PGRI Non-Vaksentral) di
bawah pimpinan M.E. Subiadinata dan kawan-kawan berperan aktif dalam kubu yang
mengganyang PKI dan ormas-ormasnya. Bersama paara pelajar, mahasiswa, sarjana,
dan lain-lain, para guru anggota PGRI turun ke jalan dengan meneriakkan Tritura
(Tri Tuntutan Rakyat) yaitu : “Bubarkan PKI, Ritul Kabinet 100 Menteri, dan
Turunkan Harga-harga!”. Mereka membentuk kesatuan aksi, misalnya KAMI (Kesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia), KASI
(Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), sedangkan para guru membentuk KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) pada tanggal 2 Februari
1966.
KAGI
merupakan wahana untuk menyatukan semua organisasi guru yang tadinya
terkotak-kotak sebagai produk politik Orde Lama. PGRI bersama-sama
denganpersatuan Guru NU, Ikatan Guru Muhammadiyah, Ikatan Guru PSII (Serikat
Islam Indonesia), Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osa-Usep), Persatuan Guru Kristen
Indonesia, Ikatan Guru Katolik, Persatuan Guru Islam Indonesia,dan Persatuan
Guru PERTI membentuk KAGI. Khusus di Jawa Barat dibentuk KAPPP (Kesatuan Aksi
Pembela Pendidikan Pancasila) atau disebut juga “KAGI Edisi Jawa Barat”. Pada
mulanya KAGI terbentuk di Jakarta Raya (KAGI Jaya) dan Jawa Barat (KAPPP),
tetapi kemudian berturut-turut terbentuk pula KAGI di berbagai provinsi
lainnya.
1.
Tugas utama KAGI
:
a.
Membersihkan
dunia pendidikan Indonesia dari unsur-unsur PKI dan Orde Lama, yaitu PGRI
Non-Vaaksentral/PKI, Serikat Sekerja Pendidikan, dan PGTI (Persatuan Guru
Teknik Indonesia).
b.
Menyatukan semua
guru di dalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI.
c.
Memperjuangkan
agar PGRI menjadi organisasi guru yang tidak hanya bersifat unitaristik, tetapi
juga independen dan non-partai politik.
Semula
kongres XI PGRI direncanakan untuk diadakan pada tahun 1965, namun sudah dua
kali tertunda. Pertama, pada bulan November 1965 kongres tidak jadi
dilaksanakan karena terjadinya peristiwa G30-S/PKI. Kedua pada bulan November
1966 kongres juga tidak jadi dilaksanakankarena adanya dualisme, yaitu antara
Ir. Soekarno yang secara de facto
telah lumpuh kekuasaanya dengan Mayjen TNI Soeharto yang menjadi Pejabat
Presiden ketika itu. Para pendukung Orde Lama tidak mengakui kekuasaan Soeharto
sebagai pimpinan Orde Baru, sebaliknya pra pendukung Orde Baru tidak lagi mengakui
kekuasaan Ir.Soekarno. Disamping itu, pada saat bersamaan ada anjuran dari
pemerintah untuk tidak menyelenggarakankongres ssehubungan dengan akan
dilaksanakannya Sidang Umum MPRS 1966.
Pada tanggal 15-20 Maret 1967 Kongres XI akhirnya
terlaksana dengan mengambil tempat di Gedung Bioskop Alun-alun Bandung. Bukti
keberhasialn kekuatan Orde Baru dalam kongres ini terlihat dari hasil-hasil
kongres di bidang umum/politik dan susunan PB PGRI Masa Bakti XI.
2.
Hasil-hasil
Kongres XI di bidang umum dan politik sebagai berikut:
a.
Menjunjung
tingggi Hak Asasi Manusia
b.
PGRI
Non-Vaksentral/PKI, Serikat Sekerja Pendidikan, PGTI
dinyatakan
sebagai ormas terlarang karena merupakan organisasi antek PKI.
c. Diaktifkannya kembali 27 pejabat Kementrian P & K
yang dipecat oleh Mentri P & K, Prof. Prijono, karena mereka mempertahankan
pendidikan yang berdasarkan Pancasila serta menolak Panca Cinta dan Panca
Tinggi.
d.
Disetujuinya
PGRI bergabung dalam barisan Sekber Golkar.
e.
Front Nasional
dibubarkan.
f.
PGRI ditegaskan
kembali sebagai organisasi yang bersifat unitaristik, indenpenden dan
non-partai politik.
3.
Hasil Kongres XI
PGRI di bidang organisasi :
a.
Perluasan
keanggotaan PGRI dari guru TK sampai denagn dosen perguruan tinggi.
b.
Pendidikan kader
organisasi secara teratur dan berencana.
c.
KAGI dapat
berjalan terus selama masih diperlukan dalam menaggapi situasi perjuangan
Tritura-Ampera.
d.
PGRI menjadi
anggota WCOTP (World Confederation of
Organization of the Teaching Profession).
B.
Konsolidasi Organisasi pada Awal Orde Baru
Konsolidasi
organisasi PGRI dilakukan ke daerah-daerah dan cabang-cabang, dengan prioritas
ke daerah Jawa Tenagh dan Jawa Timur. Pembenahan pada kedua daerah tersebut
tidak saja akibat kuatnya pengaruh PGRI Non-Vaksentral/PKI sebelumnya, tetapi
juga menyangkut masalah dualism dalam kepempimpinan nasional. Ini bermula dari
zaman Orde Lama ketika olitik menjadi panglima, sehingga banyak guru dan
pengurus PGRI harus berlindung di bawah partai-partai politik yang berkuasa
pada waktu itu.
PGRI dianggap terlalu dekat dengan TNI Angkatan Darat
serta Sekber Golkar.
Kunjungan-kunjungan PB PGRI secara intensif ke Jawa Tengah dan Jawa
Timur melalui Panglima Militer setempat mutlak diperlukan. Utusan PB PGRI yang
sering dikirim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah M.E. Subiadinata (Ketua
Umum PB PGRI), Slamet (Sekertaris Kemasyarakatan/ Kebudayaan), Drs. M. Rusli
Yunus (Sekertaris Sosial Ekonomi), Drs. WDF R indorindo (Sekertaris
Pendidikan), dan T. Simbolon (Sekertaris Penerangan/Humas). Hal ini dilakukan
untuk menghimbau para pengurus daerah yang masih merasa ragu-ragu agar mereti
aspirasi Orde Baru dan menyadari bahwa sikap “kepala batu” mereka dapat
menyebabkan PGRI dibekukan oleh penguasa militer. Pembentukan KAGI di Jawa
Tengah dan Jawa Timur antara lain untuk menyelamatkan PGRI dari kemelut politik
pada waktu itu.
Dua daerah
di luar Jawa yang mengahadapi masalah yang cukup serius pada masa peralhian
dari Orde Lamake Orde Baru adalah Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Kelompok
yang tadinya menguasai PGRI di kedua daerah ini denag segala upaya berusaha
bertahan mengahadapi perkembangan baru di tanah air.
Selanjutnya, pada awal tahun 1969 atas desakan Panitia Perbaikan Nasib
Guru yang dibentuk oleh PGRI, pemerintah setuju untuk mencaikan kembali
tunjangan kelebihan jam mengajar bagi guru-guru SD di seluruh Indonesia. Pada
waktu itu, PB PGRI diundang ke Jl. Merdeka Barat No. 15 Jakarta oleh Menteri P
& K, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan untuk menyampaikan
persetujuan Presiden tentang tunjangan kelebihan jam mengajar guru tersebut.
Hubungan
antara PGRI dengan organisasi guru di luar negeri mulai dirintis kembali. Pada
bulan Juli 1966 PGRI secara resmi diterima menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organization of the
Teaching Profession) dalam kongres Guru se-Dunia di Seoul, Korea Selatan.
Hal ini merupakan era baru dalam kehidupan PGRI. Sementara itu, pelaksanaan di
ARC-WCOTP (Asian Regional Conference).
Jakarta pada bulan April 1969 menandai untuk pertama kalinya PGRI menjadi tuan
rumah koferensi internasional organisasi guru. Panitia ARC-WCOTPdiketuai oleh
Slamet I dan Sekertaris H.M. Hidayat. Keberhasilan pelaksana koferensi ini
telah membuka cakrawala baru dalam hubungan internasional PGRI.
C. Arti
Lambang PGRI
Kongres
XIII PGRI tahun 1973 di Jakarta menetapkan perubahan-perubahan yang mendasar
dalam bidang organisasi, yaitu: berubahnya sifat PGRI dari Organisasi sserikat
pekerja menjadi organisasi profesi guru, ditetakanya Kode Etik Guru Indonesia,
perubahan lambangdan panji organisasi PGRI yang sesuai dengan organisasi
profesi guru,dan adanya Dewan Pembina PGRI.
1.
Arti Lambang
PGRI :
a. Bentuk : Cakra/lingkaran,
melambangkan : cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan pengabdian yang
terus-menerus.
b. Ukuran,
corak, dan warna : Bidang bagian pinggir
Lingkaran berwarna merah melambangkan pengabdian yang dilandasi kemurnian dan
keberanian bagi kepentingan rakyat. Warna putih dengan tulisan "Persatuan
Guru Republik Indonesia" melambangkan pengabdian yang dilandasi kesucian dan
kasih sayang. Panduan warna pinggir merah-putih melambangkan pengabdian kepada
negara, bangsa dan tanah air Indonesia.
c. Suluh
berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna
kuning melambangkan fungsi guru (pada pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah
dan perguruan tinggi) dengan hakikat tugas pengabdian guru sebagai pendidik
yang besar dan luhur.
d. Nyala
Api dengan 5 sinar warna merah melambangkan arti ideologo Pancasila
dan arti teknis yaknisasaran budi pekerti, cipta, rasa, karsa dan karya generasi.
e. Empat
buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak (simetris) dengan warna
corak putih melambangkan sumber ilmu yang menyangkut nilai-nilai moral,
pengetahuan, keterampilan dan ahlak bagi tingkatan lembaga-lembaga pendidikan
pra-sekolah, dasar, menengah dan tingi.
f. Warna
dasar tengah hijau melambangkan kemakmuran generasi.
2.
Arti Keseluruhan
:
Guru
Indonesia dengan Iktikad dan kesadaran pengabdian yang suci dengan segala
keberanian, keluhuran jiwa dan kasih sayang senantiasa menunaikan darma
baktinya terhadap negara, tanah air, dan bangsa Indonesia dalam mendidik budi
pekerti, cipta, rasa, karsa, dan karya generasi bangsa menjadi manusia
Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, keterampilan dan akhlak yang
tinggi.
3.
Penggunaan :
a. Sebagai lambang/lecana
b. Sebagai panji resmi dalam upacara dan panji hiasan
1) Panji resmi
Bentuk dan
berukuran bendera (panjang lebar 3:2) warna dasar putih polos, lambang di tengah dengan ukuran perbandingan lambang dan latar yang sesuai (harmonis)
2) Panji-panji biasa
Berbentuk dan
berukuran bendera dengan pilihan warna bebas asal polos.
c. Digunakan sebagai stempel pengurus pusat, daerah dan
lembaga pendidikan PGRI.
d. Dipasangkan mendampingi bendera nasional merah putih
dalam upacara/pertemuan organisasi atau pertemuan lainnya yang diselenggarakan
oleh PGRI.
D. Berdirinya
YPLP-PGRI dan Wisma Guru
Kongres XIV PGRI tanggal 26-30 Juni 1979
di Jakarta menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu mengenai pendirian
Wisma Guru. Direncanakan Wisma Guru yang terletak di Jl. Tanah Abang III No. 24
Jakarta Pusat ini sekaligus menjadi kantor PB PGRI yang dilengkapi dengan ruang
pertemuan, perpustakaan, kamar pondokan dan sebagainya.
Dalam rangka memenuhi
tuntutan masyarakat yang makin meningkatkan untuk memeperoleh pendidikan, maka
PGRI sejak awal berdirinya telah menyelenggarakan sekolah-sekolah meliputi
semua jenis dan jenjang pendidikan yang tersebar diseluruh Indonesia. Ada
diantara sekolah-sekolah PGRI yang didirikan oleh Pengurus PGRI Provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan bahkan pribadi-pribadi warga PGRI, tanpa ada
pembinaan yang terarah secara nasional terhadap sekolah-sekolah tersebut.
Sehingga peraturan pengelolaan dan pembinaanya pun sangat beraneka ragam. Hal
tersebut menyebabkan kurang efisien dan efektifnya pengelolaan sekolah-sekolah
tersebut, melainkan dapat merusak citra PGRI di tengah masyarakat.
Untuk melaksanakan keputusan kongres, PB
PGRI membentuk YPLP-PGRI dengan Akta Notaris Moh. Ali No. 21 tanggal 31 Maret
1980 yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1980. Dengan Surat Keputusan PB PGRI
No. 951/SK/PB/XIV/1980 tanggal 10 Oktober 1980 diangkat Pengurus Pusat
YPLP-PGRI yang pertama. Dalam surat keputusan tersebut ditetapkan pula tugas
pokok YPLP-PGRI yaitu melakukan pembinaan, pengelolaan, dan pengembangan
lembaga pendidikan PGRI seluruh Indonesia dan bertanggung jawab langsung kepada
PB PGRI.
Kongres XV PGRI tanggal 16-21 Juli 1984
di Jakarta menggariskan pokok-pokok program PGRI untuk kurun waktu lima tahun
mendatang (18984-1989) yang meliputi : ruang lingkup pembinaan dan pengembangan
organisasi PGRI, tanggung jawab dan peranan PGRI dalam menyukseskan SU MPR
1983, Repelita IV dan Pancakrida Kabinet Pembangunan V, dan lain-lain.
Salah satu karya besar PGRI pada Masa
Bakti XV ini adalah berhasilnya pembangunan Gedung Guru Indonesia (disebut juga
Wisma Guru) di Jl. Tanah Abang III/24 Jakarta.
Keluarnya Undang-Undang No. 8 tahun 1985
tentang Organisasi Kemasyarakatan membawa konsekuensi pada penyesuaian AD/ART
PGRI yang antara lain menegaskan bahwa PGRI merupakan organisasi profesi.
1. Hikmah dan manfaat yang dapat diambil dari ketetapan
PGRI sebagai organisasi profesi:
a. Medan perjuangan, pengabdian dan kekaryaan anggota
PGRI dapat makin ditingkatkan dan di mantapkan.
b. Upaya peningkatan mutu profesionalisme para anggota
PGRI dapat makin diperhatikan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
c. Dapat dipupuk rasapersatuan dan kesatuan yang makin
kokoh diantara para anggota PGRI sehingga organisasi ini dapat terhindardari
perpecahan akibat tarik menarik antara berbagai kekuatan politik di luar
organisasi.
E. Refleksi
tentang Masa Depan PGRI
Setelah mampu mengambil hikmah dari
pengalaman selama kurun waktu lebih dari setengah abad, PGRI secara berencana
memikirkan kemungkinan arah pengembangannya dalam kurun waktu 30 tahun
mendatang.
Sebenarnya banyak
kemungkinan arah pembangunan PGRI untuk 30 tahun mendatang. Salah satu
kemungkinan yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan beberapa kategori
pendekatan.
1. Beberapa kategori pendekatan :
a. Kategori Fundamental
Yang sejak awal telah dipilih oleh PGRI, yaitu sebagai
organisasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dengan GBHN-nya. Semangat
kebangsaan dan semangat perjuangan PGRI secara esensial dan eksistensial
diilhami oleh landasan-landasan fundamental tersebut. Secara makro PGRI
berpartisipasi aktif secara professional dalam pembangunan bangsa.
b. Kategori Teknis
Mengembangkan dan mendorong proses-proses perubahan
sistematis dalam tubuh PGRI dan di tengah masyarakat, khususnya dalam
masyarakat pendidikan, serta menciptakan sinergi dengan berbagai organisasi
lain mengukuhkan peran PGRI.
c. Kategori Terapan
Perjuangan didasarkan pendekatan mikro yang lazim
digunakan oleh PGRI sebagai kebiasaan wajar yang meliputi aspek profesi,
kesejahteraan, pengabdian kepada masyarakat, dan penataan organisasi.
PGRI dituntut untuk lebih aktif dalam mendorong
pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan kemampuannya.
Pada hakekatnya PGRI adalah sebuah
organisasi profesi pendidik pada umumnya dan para guru pada khususnya. Akan
tetapi, karena tuntutan zamannya, akan tampak bahwa penampilan PGRI tercermin
dari keputusan kongres yang satu ke kongres yang lain seolah-olah sebagai
organisasi massa yang lebih bersifat politis daripada professional.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun
tampak jelas bahwa PGRI mempunyai pengalaman penting dalam rangka meningkatkan
profesionalismenya di bidang pendidikan pada umumnya dan keguruan pada
khususnya.
Hal ini
terlihat pada masa orde baru yang merupakan puncak G30 S/PKI, PGRI-Kongres
membentuk Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) untuk menyatukan semua organisasi
guru yang tadinya terkotak-kotak sebagai produk politik orde lama.
PGRI juga melakukan konsolidasi
Organisasi kedaerah-kedaerah dan cabang-cabang. Hal ini dilakukan untuk
menghimbau para pengurus daerah yang masih merasa ragu-ragu agar mengerti
aspirasi Orde Baru dan menyadari bahwa sikap “kepala batu” mereka dapat
menyebabkan PGRI dibekukan atau dibubarkan oleh penguasa militer.
Terbantuknya YPLP-PGRI pada masa orde
baru waktu itu juga mendukung program PGRI didalam melakukan pembinaan,
pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan. PGRI merupakan organisasi profesi,
oleh karena itu PGRI perlu memikirkan, memilih, memutuskan, merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi berbagai pola piker, pola tindakan dan prestasi
yang diharapkan dalam rangka meningkatkan profesionalismenya.
DAFTAR PUSTAKA
Supriadi Dedi, dkk. 2003. Perjalanan PGRI (1945-2003) Menyongsong Kongres XIX PGRI di Semarang, 8-21 Juli 2003.
Jakarta: Pengurus Besar PGRI.




terima kasih infonya, sangat membantu.
iya sangat membantu