skip to main | skip to sidebar

counter

Pages

  • Beranda
  • Profil
  • Album Foto
  • Keterampilan Berbahasa

Gudang Baca

Tugas Ke-PGRI-an

03.08 | Publish by Unknown



MAKALAH
PGRI Pada Masa Orde Baru
Makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Ke-PGRI-an
yang dibina oleh Drs. Soepoyo Ristianto


Oleh

Briandika Doni .A.                12144600132/ A4-12
Yuni Lestari                           12144600139/ A4-12
Diah Ayu Retnaningsih        12144600140/ A4-12
Windri Ratna Peni                12144600157/ A4-12


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013



BAB I
PENDAHULUAN
           
A.    Latar Belakang
      Sejak lahirnya orde baru tahun 1967 hingga berakhirnya tahun 1998. PGRI sebagai komponen Orde Baru, menikmati masa-masa perkembangan dan sekaligus stabilitas dan kekohesifan pada intern organisasi. Stabilitas ini secara simbolis direpresentasikan, antara lain pada kepengurusannya. Setelah melewati empat periode kepemimpinan di bawah  M.E. Subiadinata sebagai  Ketua Umum PB-PGRI (1956-1969) yang diseling oleh Slamet I menyusul wafatnya M.E. Subiadinata tahun 1969. PB PGRI dipimpin oleh Basyuni Suriamiharja selama enam periode (1970-1998).
     Akan tetapi, seperti dikemukakan terdahulu, periode ini mencatat sisi lain dari perjalanan PGRI, yaitu hubungan mesra organisasi ini dengan pemerintah yang mempekerjakan para guru. Disamping memiliki aspek-aspek positif, kedekatan hubungan ini juga pada  gilirannya agak menyulitkan posisi PGRI sendiri dalam memperjuangkan nasib guru. Sangat jelas pula terlihat bahwa pada periode Orde Baru, sifat PGRI sebagai organisasi yang unitaristik, independen, dan non-partai politik agak terabaikan penegakannya, atau mungkin diartikulasikan secara berbeda dengan ketika sifat organisasi ini pertama kali dirumuskan. Bersama para pegawai negeri sipil lainnya (juga TNI/ABRI), PGRI sebagai organisasi raksasa yang sangat efektif
      Selama periode ini, yakni pada masa tersebut sulit bagi sebuah sebuah organisasi sebesar PGRI untuk menghindar dari berbagai tekanan politik yang begitu hebat dan sistematis pada era Orde Baru, tentu saja dengan segala dilemanya bagi PGRI. Tekanan politik dimaksud telah memaksa hampir semua organisasi (apalagi dengan jumlah anggota yang raksasa seperti PGRI), bahkan termasuk juga partai politik, untuk tidak mampu mengambil jalan sendiri diluar koridor yang ditentukan oleh Orde Baru. Bahkan dapat dikatakan bahwa justru dengan mekanisme adaptasi seperti itu, PGRI dapat tetap bertahan dan kuat selama era ini. Model kepemimpinanyang sejuk dan kooperatif yang ditampilkan oleh Basyuni Suriamiharja tampaknya memang cocok untuuk masa tersebut. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa tugas utama KAGI?
2.      Bagaimana konsolidasi organisasi pada awal orde baru?
3.      Apa arti lambang PGRI?
4.      Bagaimana proses berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru?
5.      Bagaimana refleksi tentang masa depan PGRI?


C.    Tujuan
A.    Menjelaskan tugas utama KAGI.
B.     Menjelaskan konsolidasi organisasi pada awal orde baru.
C.     Menjelaskan arti lambang PGRI.
D.    Menjelaskan proses berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru.
E.     Menjelaskan refleksi tentang masa depan PGRI.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)
      Peristiwa G30 S/PKI merupakan puncak dari apa yang sebelumnya berlangsung dalam tubuh PGRI, yaitu perebutan pengaruh antara kekuatan anti-PKI dn pro-PKI, infiltrasi dan fitnah oleh kelompok pro-PKI, berdirinya PGRI Non-Vaksentral dan lain-lain. Setelah terjadinya peristiwa tersebut, PGRI-Kongres (yang dibedakan dari PGRI Non-Vaksentral) di bawah pimpinan M.E. Subiadinata dan kawan-kawan berperan aktif dalam kubu yang mengganyang PKI dan ormas-ormasnya. Bersama paara pelajar, mahasiswa, sarjana, dan lain-lain, para guru anggota PGRI turun ke jalan dengan meneriakkan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yaitu : “Bubarkan PKI, Ritul Kabinet 100 Menteri, dan Turunkan Harga-harga!”. Mereka membentuk kesatuan aksi, misalnya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), sedangkan para guru membentuk KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) pada tanggal 2 Februari 1966.
      KAGI merupakan wahana untuk menyatukan semua organisasi guru yang tadinya terkotak-kotak sebagai produk politik Orde Lama. PGRI bersama-sama denganpersatuan Guru NU, Ikatan Guru Muhammadiyah, Ikatan Guru PSII (Serikat Islam Indonesia), Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osa-Usep), Persatuan Guru Kristen Indonesia, Ikatan Guru Katolik, Persatuan Guru Islam Indonesia,dan Persatuan Guru PERTI membentuk KAGI. Khusus di Jawa Barat dibentuk KAPPP (Kesatuan Aksi Pembela Pendidikan Pancasila) atau disebut juga “KAGI Edisi Jawa Barat”. Pada mulanya KAGI terbentuk di Jakarta Raya (KAGI Jaya) dan Jawa Barat (KAPPP), tetapi kemudian berturut-turut terbentuk pula KAGI di berbagai provinsi lainnya.
1.      Tugas utama KAGI :
a.       Membersihkan dunia pendidikan Indonesia dari unsur-unsur PKI dan Orde Lama, yaitu PGRI Non-Vaaksentral/PKI, Serikat Sekerja Pendidikan, dan PGTI (Persatuan Guru Teknik Indonesia).
b.      Menyatukan semua guru di dalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI.
c.       Memperjuangkan agar PGRI menjadi organisasi guru yang tidak hanya bersifat unitaristik, tetapi juga independen dan non-partai politik.
      Semula kongres XI PGRI direncanakan untuk diadakan pada tahun 1965, namun sudah dua kali tertunda. Pertama, pada bulan November 1965 kongres tidak jadi dilaksanakan karena terjadinya peristiwa G30-S/PKI. Kedua pada bulan November 1966 kongres juga tidak jadi dilaksanakankarena adanya dualisme, yaitu antara Ir. Soekarno yang secara de facto telah lumpuh kekuasaanya dengan Mayjen TNI Soeharto yang menjadi Pejabat Presiden ketika itu. Para pendukung Orde Lama tidak mengakui kekuasaan Soeharto sebagai pimpinan Orde Baru, sebaliknya pra pendukung Orde Baru tidak lagi mengakui kekuasaan Ir.Soekarno. Disamping itu, pada saat bersamaan ada anjuran dari pemerintah untuk tidak menyelenggarakankongres ssehubungan dengan akan dilaksanakannya Sidang Umum MPRS 1966.
Pada tanggal 15-20 Maret 1967 Kongres XI akhirnya terlaksana dengan mengambil tempat di Gedung Bioskop Alun-alun Bandung. Bukti keberhasialn kekuatan Orde Baru dalam kongres ini terlihat dari hasil-hasil kongres di bidang umum/politik dan susunan PB PGRI Masa Bakti XI.
2.      Hasil-hasil Kongres XI di bidang umum dan politik sebagai berikut:
a.       Menjunjung tingggi Hak Asasi Manusia
b.      PGRI Non-Vaksentral/PKI, Serikat Sekerja Pendidikan, PGTI
dinyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan organisasi antek PKI.
c.       Diaktifkannya kembali 27 pejabat Kementrian P & K yang dipecat oleh Mentri P & K, Prof. Prijono, karena mereka mempertahankan pendidikan yang berdasarkan Pancasila serta menolak Panca Cinta dan Panca Tinggi.
d.      Disetujuinya PGRI bergabung dalam barisan Sekber Golkar.
e.       Front Nasional dibubarkan.
f.       PGRI ditegaskan kembali sebagai organisasi yang bersifat unitaristik, indenpenden dan non-partai politik.
3.      Hasil Kongres XI PGRI di bidang organisasi :
a.       Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK sampai denagn dosen perguruan tinggi.
b.      Pendidikan kader organisasi secara teratur dan berencana.
c.       KAGI dapat berjalan terus selama masih diperlukan dalam menaggapi situasi perjuangan Tritura-Ampera.
d.      PGRI menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organization of the Teaching Profession).

B.     Konsolidasi Organisasi pada Awal Orde Baru
      Konsolidasi organisasi PGRI dilakukan ke daerah-daerah dan cabang-cabang, dengan prioritas ke daerah Jawa Tenagh dan Jawa Timur. Pembenahan pada kedua daerah tersebut tidak saja akibat kuatnya pengaruh PGRI Non-Vaksentral/PKI sebelumnya, tetapi juga menyangkut masalah dualism dalam kepempimpinan nasional. Ini bermula dari zaman Orde Lama ketika olitik menjadi panglima, sehingga banyak guru dan pengurus PGRI harus berlindung di bawah partai-partai politik yang berkuasa pada waktu itu.
PGRI dianggap terlalu dekat dengan TNI Angkatan Darat serta Sekber Golkar.
      Kunjungan-kunjungan PB PGRI secara intensif ke Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui Panglima Militer setempat mutlak diperlukan. Utusan PB PGRI yang sering dikirim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah M.E. Subiadinata (Ketua Umum PB PGRI), Slamet (Sekertaris Kemasyarakatan/ Kebudayaan), Drs. M. Rusli Yunus (Sekertaris Sosial Ekonomi), Drs. WDF R indorindo (Sekertaris Pendidikan), dan T. Simbolon (Sekertaris Penerangan/Humas). Hal ini dilakukan untuk menghimbau para pengurus daerah yang masih merasa ragu-ragu agar mereti aspirasi Orde Baru dan menyadari bahwa sikap “kepala batu” mereka dapat menyebabkan PGRI dibekukan oleh penguasa militer. Pembentukan KAGI di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara lain untuk menyelamatkan PGRI dari kemelut politik pada waktu itu.
      Dua daerah di luar Jawa yang mengahadapi masalah yang cukup serius pada masa peralhian dari Orde Lamake Orde Baru adalah Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Kelompok yang tadinya menguasai PGRI di kedua daerah ini denag segala upaya berusaha bertahan mengahadapi perkembangan baru di tanah air.
      Selanjutnya, pada awal tahun 1969 atas desakan Panitia Perbaikan Nasib Guru yang dibentuk oleh PGRI, pemerintah setuju untuk mencaikan kembali tunjangan kelebihan jam mengajar bagi guru-guru SD di seluruh Indonesia. Pada waktu itu, PB PGRI diundang ke Jl. Merdeka Barat No. 15 Jakarta oleh Menteri P & K, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan untuk menyampaikan persetujuan Presiden tentang tunjangan kelebihan jam mengajar guru tersebut.
      Hubungan antara PGRI dengan organisasi guru di luar negeri mulai dirintis kembali. Pada bulan Juli 1966 PGRI secara resmi diterima menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organization of the Teaching Profession) dalam kongres Guru se-Dunia di Seoul, Korea Selatan. Hal ini merupakan era baru dalam kehidupan PGRI. Sementara itu, pelaksanaan di ARC-WCOTP (Asian Regional Conference). Jakarta pada bulan April 1969 menandai untuk pertama kalinya PGRI menjadi tuan rumah koferensi internasional organisasi guru. Panitia ARC-WCOTPdiketuai oleh Slamet I dan Sekertaris H.M. Hidayat. Keberhasilan pelaksana koferensi ini telah membuka cakrawala baru dalam hubungan internasional PGRI.
C.    Arti Lambang PGRI
      Kongres XIII PGRI tahun 1973 di Jakarta menetapkan perubahan-perubahan yang mendasar dalam bidang organisasi, yaitu: berubahnya sifat PGRI dari Organisasi sserikat pekerja menjadi organisasi profesi guru, ditetakanya Kode Etik Guru Indonesia, perubahan lambangdan panji organisasi PGRI yang sesuai dengan organisasi profesi guru,dan adanya Dewan Pembina PGRI.



1.         Arti Lambang PGRI :
a.    Bentuk : Cakra/lingkaran, melambangkan : cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan pengabdian yang terus-menerus.
b.   Ukuran, corak, dan warna : Bidang bagian pinggir Lingkaran berwarna merah melambangkan pengabdian yang dilandasi kemurnian dan keberanian bagi kepentingan rakyat. Warna putih dengan tulisan "Persatuan Guru Republik Indonesia" melambangkan pengabdian yang dilandasi kesucian dan kasih sayang. Panduan warna pinggir merah-putih melambangkan pengabdian kepada negara, bangsa dan tanah air Indonesia.
c.    Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning melambangkan fungsi guru (pada pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan perguruan tinggi) dengan hakikat tugas pengabdian guru sebagai pendidik yang besar dan luhur.
d.   Nyala Api dengan 5 sinar warna merah  melambangkan arti ideologo Pancasila dan arti teknis yaknisasaran budi pekerti, cipta, rasa, karsa dan karya generasi.
e.    Empat buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak (simetris) dengan warna corak putih melambangkan sumber ilmu yang menyangkut nilai-nilai moral, pengetahuan, keterampilan dan ahlak bagi tingkatan lembaga-lembaga pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan tingi.
f.    Warna dasar tengah hijau melambangkan kemakmuran generasi.
2.         Arti Keseluruhan :
      Guru Indonesia dengan Iktikad dan kesadaran pengabdian yang suci dengan segala keberanian, keluhuran jiwa dan kasih sayang senantiasa menunaikan darma baktinya terhadap negara, tanah air, dan bangsa Indonesia dalam mendidik budi pekerti, cipta, rasa, karsa, dan karya generasi bangsa menjadi manusia Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, keterampilan dan akhlak yang tinggi.
3.         Penggunaan :
a.       Sebagai lambang/lecana
b.      Sebagai panji resmi dalam upacara dan panji hiasan
1)   Panji resmi
Bentuk dan berukuran bendera (panjang lebar 3:2) warna dasar putih polos, lambang di tengah dengan ukuran perbandingan lambang dan latar yang sesuai (harmonis)
2)   Panji-panji biasa
Berbentuk dan berukuran bendera dengan pilihan warna bebas asal polos.
c.       Digunakan sebagai stempel pengurus pusat, daerah dan lembaga pendidikan PGRI.
d.      Dipasangkan mendampingi bendera nasional merah putih dalam upacara/pertemuan organisasi atau pertemuan lainnya yang diselenggarakan oleh PGRI.

D.    Berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru
      Kongres XIV PGRI tanggal 26-30 Juni 1979 di Jakarta menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu mengenai pendirian Wisma Guru. Direncanakan Wisma Guru yang terletak di Jl. Tanah Abang III No. 24 Jakarta Pusat ini sekaligus menjadi kantor PB PGRI yang dilengkapi dengan ruang pertemuan, perpustakaan, kamar pondokan dan sebagainya.
Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat yang makin meningkatkan untuk memeperoleh pendidikan, maka PGRI sejak awal berdirinya telah menyelenggarakan sekolah-sekolah meliputi semua jenis dan jenjang pendidikan yang tersebar diseluruh Indonesia. Ada diantara sekolah-sekolah PGRI yang didirikan oleh Pengurus PGRI Provinsi, kabupaten/kota, kecamatan bahkan pribadi-pribadi warga PGRI, tanpa ada pembinaan yang terarah secara nasional terhadap sekolah-sekolah tersebut. Sehingga peraturan pengelolaan dan pembinaanya pun sangat beraneka ragam. Hal tersebut menyebabkan kurang efisien dan efektifnya pengelolaan sekolah-sekolah tersebut, melainkan dapat merusak citra PGRI di tengah masyarakat.
      Untuk melaksanakan keputusan kongres, PB PGRI membentuk YPLP-PGRI dengan Akta Notaris Moh. Ali No. 21 tanggal 31 Maret 1980 yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1980. Dengan Surat Keputusan PB PGRI No. 951/SK/PB/XIV/1980 tanggal 10 Oktober 1980 diangkat Pengurus Pusat YPLP-PGRI yang pertama. Dalam surat keputusan tersebut ditetapkan pula tugas pokok YPLP-PGRI yaitu melakukan pembinaan, pengelolaan, dan pengembangan lembaga pendidikan PGRI seluruh Indonesia dan bertanggung jawab langsung kepada PB PGRI.
      Kongres XV PGRI tanggal 16-21 Juli 1984 di Jakarta menggariskan pokok-pokok program PGRI untuk kurun waktu lima tahun mendatang (18984-1989) yang meliputi : ruang lingkup pembinaan dan pengembangan organisasi PGRI, tanggung jawab dan peranan PGRI dalam menyukseskan SU MPR 1983, Repelita IV dan Pancakrida Kabinet Pembangunan V, dan lain-lain.
      Salah satu karya besar PGRI pada Masa Bakti XV ini adalah berhasilnya pembangunan Gedung Guru Indonesia (disebut juga Wisma Guru) di Jl. Tanah Abang III/24 Jakarta.
      Keluarnya Undang-Undang No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan membawa konsekuensi pada penyesuaian AD/ART PGRI yang antara lain menegaskan bahwa PGRI merupakan organisasi profesi.
1.      Hikmah dan manfaat yang dapat diambil dari ketetapan PGRI sebagai organisasi profesi:
a.       Medan perjuangan, pengabdian dan kekaryaan anggota PGRI dapat makin ditingkatkan dan di mantapkan.
b.      Upaya peningkatan mutu profesionalisme para anggota PGRI dapat makin diperhatikan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c.       Dapat dipupuk rasapersatuan dan kesatuan yang makin kokoh diantara para anggota PGRI sehingga organisasi ini dapat terhindardari perpecahan akibat tarik menarik antara berbagai kekuatan politik di luar organisasi.

E.     Refleksi tentang Masa Depan PGRI
      Setelah mampu mengambil hikmah dari pengalaman selama kurun waktu lebih dari setengah abad, PGRI secara berencana memikirkan kemungkinan arah pengembangannya dalam kurun waktu 30 tahun mendatang.  
Sebenarnya banyak kemungkinan arah pembangunan PGRI untuk 30 tahun mendatang. Salah satu kemungkinan yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan beberapa kategori pendekatan.
1.      Beberapa kategori pendekatan :
a.       Kategori Fundamental
Yang sejak awal telah dipilih oleh PGRI, yaitu sebagai organisasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dengan GBHN-nya. Semangat kebangsaan dan semangat perjuangan PGRI secara esensial dan eksistensial diilhami oleh landasan-landasan fundamental tersebut. Secara makro PGRI berpartisipasi aktif secara professional dalam pembangunan bangsa.
b.      Kategori Teknis
Mengembangkan dan mendorong proses-proses perubahan sistematis dalam tubuh PGRI dan di tengah masyarakat, khususnya dalam masyarakat pendidikan, serta menciptakan sinergi dengan berbagai organisasi lain mengukuhkan peran PGRI.
c.       Kategori Terapan
Perjuangan didasarkan pendekatan mikro yang lazim digunakan oleh PGRI sebagai kebiasaan wajar yang meliputi aspek profesi, kesejahteraan, pengabdian kepada masyarakat, dan penataan organisasi.
PGRI dituntut untuk lebih aktif dalam mendorong pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan kemampuannya.
      Pada hakekatnya PGRI adalah sebuah organisasi profesi pendidik pada umumnya dan para guru pada khususnya. Akan tetapi, karena tuntutan zamannya, akan tampak bahwa penampilan PGRI tercermin dari keputusan kongres yang satu ke kongres yang lain seolah-olah sebagai organisasi massa yang lebih bersifat politis daripada professional.

BAB III
KESIMPULAN

      Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun tampak jelas bahwa PGRI mempunyai pengalaman penting dalam rangka meningkatkan profesionalismenya di bidang pendidikan pada umumnya dan keguruan pada khususnya.
Hal ini terlihat pada masa orde baru yang merupakan puncak G30 S/PKI, PGRI-Kongres membentuk Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) untuk menyatukan semua organisasi guru yang tadinya terkotak-kotak sebagai produk politik orde lama.
       PGRI juga melakukan konsolidasi Organisasi kedaerah-kedaerah dan cabang-cabang. Hal ini dilakukan untuk menghimbau para pengurus daerah yang masih merasa ragu-ragu agar mengerti aspirasi Orde Baru dan menyadari bahwa sikap “kepala batu” mereka dapat menyebabkan PGRI dibekukan atau dibubarkan oleh penguasa militer.
      Terbantuknya YPLP-PGRI pada masa orde baru waktu itu juga mendukung program PGRI didalam melakukan pembinaan, pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan. PGRI merupakan organisasi profesi, oleh karena itu PGRI perlu memikirkan, memilih, memutuskan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi berbagai pola piker, pola tindakan dan prestasi yang diharapkan dalam rangka meningkatkan profesionalismenya.

DAFTAR PUSTAKA
Supriadi Dedi, dkk. 2003. Perjalanan PGRI (1945-2003) Menyongsong Kongres XIX     PGRI di Semarang, 8-21 Juli 2003. Jakarta: Pengurus Besar PGRI.
http://afud1428.files.wordpress.com/2011/02/ke-pgri-an.pdf
http://dediagussetiawan.wordpress.com/2009/12/13/sejarah-pgri/
http://jalalnusantara.blogspot.com/2011/02/saat-guru-menentang-koorporatisme-orde.html
http://kusdiyono.wordpress.com/2010/11/11/sejarah-hari-guru-indonesia-25-nop/
http://monthreview.blogspot.com/2011/03/soal-dan-pembahasan-mata-kuliah-ke-pgri.html
http://sigitajiputra.wordpress.com/2009/12/07/sejarah-persatuan-guru-republik-indonesia/
http://www.pgridiy.com/index.php?cat=logo





Label: Semester 2 2 komentar
2 Responses
  1. Unknown Says:
    27 April 2016 pukul 06.15

    terima kasih infonya, sangat membantu.


  2. HARUU Says:
    7 April 2018 pukul 01.33

    iya sangat membantu


Posting Komentar

« Posting Lebih Baru Posting Lama »
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Angry Birds

Diberdayakan oleh Blogger.

Lencana Facebook

Diah Ayu Retnaningsih

Buat Lencana Anda

Statistik

Maukie - the virtual cat

Kategori

  • Cerpen (2)
  • Keterampilan Berbahasa (4)
  • Kumpulan Artikel (15)
  • Resep Masakan (11)
  • Semester 1 (1)
  • Semester 2 (11)
  • Semester 3 (3)

Blog Archive

  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2013 (46)
    • ►  Desember (5)
    • ▼  November (33)
      • Keterampilan menyimak
      • Keterampilan Berbahasa
      • Artikel Manfaat Cokelat
      • Ideologi
      • Resep Ayam Kuluyuk
      • Resep Ayam Nanking
      • Resep Ayam Cabe Kering
      • Legenda
      • Tips Flashdisk
      • Artikel Es Krim
      • Tugas Psikologi Anak
      • Artikel Tingkatan Alay
      • Resep Kimlo
      • Baju Anti Peluru
      • Resep Somay
      • Resep Batagor Kuah
      • Resep Tahu Gimbal
      • Resep Gimbal Udang
      • Artikel Manfaat Buah Blueberry
      • Artikel Tips dan Solusi Mengatasi Ngantuk di Kelas
      • Tugas Profesi Kependidikan
      • Tugas Matematika 2
      • Tugas Bahasa Inggris
      • Artikel Penyakit Guru yang Banyak di temui Pada Gu...
      • Powerpoint tugas Ke-PGRI-an
      • Tugas Ke-PGRI-an
      • Artikel Kesehatan
      • Tugas Kepribadian Anak
      • Tugas Powerpoint Pendidikan Pancasila
      • Tugas PKN 2
      • Tugas Bahasa Indonesia 2 (Buku Mamalia)
      • Tugas Aplikasi Komputer
      • Makalah Media Pembelajaran
    • ►  September (8)

Profil ku

Unknown
Lihat profil lengkapku

Copyright (c) 2010 Gudang Baca. Design by Template Lite
Download Blogger Templates And Directory Submission.