skip to main | skip to sidebar

counter

Pages

  • Beranda
  • Profil
  • Album Foto
  • Keterampilan Berbahasa

Gudang Baca

Keterampilan menyimak

15.14 | Publish by Unknown



KETERAMPILAN MENYIMAK
A. Hakikat Menyimak sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa
Pengertian menyimak sangat dekat maknanya dengan mendengar dan mendengarkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2003: 1066), didapati pengertian menyimak yaitu mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Pada sumber yang sama (2003: 251), terdapat pengertian mendengar yaitu dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau ada bunyi, alat pendengar kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Kita mendengar suara itu tanpa ada unsur kesengajaan. Sementara, yang dimaksud dengan mendengarkan adalah mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Dari pengertian masing-masing kata, kita dapat melihat perbedaan antara ketiganya. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan, dengan kata lain datang secara kebetulan. Sementara dalam menyimak, faktor kesengajaan cukup besar, lebih besar daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha memahami apa yang disampaikan pembicara, sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum dilakukan. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Pintamtiyastirin (1983: 11) bahwa menyimak ialah mendengarkan dengan pemahaman atau pengertian, bahkan sampai ke tingkat apresiasi.
Kegiatan menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang kompleks karena melibatkan berbagai proses menyimak pada saat yang sama. Menyimak bukan merupakan suatu proses yang pasif, melainkan suatu proses yang aktif dalam mengonstruksikan suatu pesan dari suatu arus bunyi yang diketahui orang sebagai potensi-potensi fonologis, semantik, dan sintaksis suatu bahasa. Pada saat penyimak mendengar bunyi bahasa, pada saat itu pula mental seseorang aktif bekerja, mencoba memahami, menafsirkan, apa yang disampaikan pembicara, dan memberinya respons. Pada dasarnya respons yang diberikan itu akan terjadi setelah adanya integrasi antara pesan yang didengar dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman penyimak. Respons itu bisa sama dengan yang dikehendaki pembicara dan bisa pula tidak.
Mengingat proses menyimak itu ternyata terjadi dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, maka dapat dipastikan bahwa urutan proses itu bekerja dengan cepat. Kalau proses itu mendapatkan gangguan, dengan sendirinya kegiatan menyimak tidak berlangsung sempurna dan pemahaman pun tidak tercapai. Ini berarti penyimak tidak dapat melakukan respons. Seperti yang diungkapkan Bistok, (via Sutari, dkk, 1997: 21) bahwa menyimak adalah suatu rentetan proses, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi, menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman.
Sebagai kegiatan yang kompleks, menyimak mempunyai beberapa unsur dasar yang secara fundamental mewujudkan adanya suatu peristiwa atau kegiatan menyimak, yaitu: pembicara sebagai sumber pesan, penyimak sebagai penerima pesan, bahan simakan sebagai unsur konsep, dan bahasa lisan sebagai media (Sutari, dkk, 1997: 42). Keempat unsur tersebut sangat berpengaruh dalam kegiatan menyimak. Salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka kegiatan menyimak tidak akan berjalan. Selain ditentukan oleh eksistensi unsur dasar tersebut, kualitas pelaksanaan kegiatan menyimak juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Menurut Tarigan (2006: 98), faktor-faktor tersebut adalah faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.
Delapan faktor tersebut di atas turut memengaruhi kualitas dari kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya. Untuk dapat menyimak dengan baik, seorang penyimak harus berada pada kondisi yang siap simak karena menyimak dengan baik menuntut perhatian, pikiran, penalaran, penafsiran, dan imajinasi. Para penyimak harus memproyeksikan diri mereka ke dalam pikiran pembicara dan berupaya memahami bukan saja yang dikatakan oleh pembicara, melainkan juga apa yang dimaksudkannya.
Sutari, dkk (1997: 22) mengemukakan bahwa tinggi rendahnya tingkat perhatian, pikiran, penalaran, penafsiran, dan imajinasi penyimak tergantung pada tujuan penyimak dalam melakukan kegiatan tersebut. Ada beberapa macam tujuan dalam kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya, yaitu mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta atau informasi yang ada, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara. Perbedaan tujuan dalam kegiatan menyimak, menyebabkan adanya aneka ragam menyimak.
Ada beberapa macam tujuan dalam kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya, yaitu: mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta atau informasi yang ada, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara.
B. Ragam Menyimak
Perbedaan tujuan dalam kegiatan menyimak, menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Secara garis besar, menyimak dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Menyimak ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Menyimak ekstensif terdiri dari:
(1)   Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional adalah menyimak yang biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang mengobrol atau bercengkerama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling mendengarkan untuk memuat responsi-responsi yang wajar, mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan oleh seorang rekan (Dawson, via Tarigan, 2006: 37).
Contoh : seorang anak menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.
(2)   Menyimak sekunder (secondery listening) adalah sejenis kegiatan menyimak kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).
Contoh: jika seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orang lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.
(3)   Menyimak estetik (aesthetic listening) ataupun yang disebut dengan menyimak apresiatif adalah fase terakhir dalam kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif.
Contoh: menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, syair lagu, dan sebagainya. Kegiatan menyimak itu lebih menekankan aspek emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang terhadap puisi tersebut. Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang pengarang terkenal Gunawan Mohammad yang sering membacakan cerpen-cerpennya melalui radio. Banyak remaja mendengarkan pembacaan tersebut. Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang dibacakan tersebut
(4)   Menyimak pasif (passive listening) adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai sesuatu bahasa.
Contoh: seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa daerah tersebut. Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif. Namun, pada akhirnya, orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik. Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan ketidaksengajaan.
b. Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah jenis menyimak yang pelaksanaannya diarahkan pada suatu kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Menyimak intensif terdiri atas beberapa jenis berikut.
(1)   Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupaya untuk mencari kesalahan dan kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.
Contoh:   Seorang panitia menilai mahasiswa dalam melakukan debat ilmiah.
(2)   Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa yang disimaknya.
Contoh: Seorang siswa menyimak dialok bahasa inggris yang dilakukan dikelasnya.
(3) Menyimak eksploratif yaitu sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan sempit.
(4) Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian, dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, karena sang penyimak akan mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan.
(5) Menyimak selektif yakni menyimak yang dilakukan sebagai pelengkap kegiatan menyimak pasif guna mengimbangi isolasi kultural dan tendensi kita untuk menginterpretasikan kembali semua yang kita dengar dengan bantuan bahasa yang telah kita kuasai.
Contoh: menyimak acara televisi dan memilah mana yang boleh ditonton oleh anak kecil dan mana yang tidak boleh di larang
(6) Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type atau menyimak yang kegiatannya sejenis dengan telaah.
Contoh: Seorang siswa ketika membaca sebuah novel dengan penuh konsentrasi agar dia bisa menemukan isi dari pada novel tersebut.
Sumber :
1.      Sunarti dan Deri Anggraini. 2009. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.
2.      http://aristhaserenade.blogspot.com/p/keterampilan-menyimak.html
3.      http://vitusriangtoby.blogspot.com/2011/11/tugas-menyimak-bahasa-dan-sastra.html

Label: Keterampilan Berbahasa 0 komentar
0 Responses

Posting Komentar

« Posting Lebih Baru Posting Lama »
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Angry Birds

Diberdayakan oleh Blogger.

Lencana Facebook

Diah Ayu Retnaningsih

Buat Lencana Anda

Statistik

Maukie - the virtual cat

Kategori

  • Cerpen (2)
  • Keterampilan Berbahasa (4)
  • Kumpulan Artikel (15)
  • Resep Masakan (11)
  • Semester 1 (1)
  • Semester 2 (11)
  • Semester 3 (3)

Blog Archive

  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2013 (46)
    • ►  Desember (5)
    • ▼  November (33)
      • Keterampilan menyimak
      • Keterampilan Berbahasa
      • Artikel Manfaat Cokelat
      • Ideologi
      • Resep Ayam Kuluyuk
      • Resep Ayam Nanking
      • Resep Ayam Cabe Kering
      • Legenda
      • Tips Flashdisk
      • Artikel Es Krim
      • Tugas Psikologi Anak
      • Artikel Tingkatan Alay
      • Resep Kimlo
      • Baju Anti Peluru
      • Resep Somay
      • Resep Batagor Kuah
      • Resep Tahu Gimbal
      • Resep Gimbal Udang
      • Artikel Manfaat Buah Blueberry
      • Artikel Tips dan Solusi Mengatasi Ngantuk di Kelas
      • Tugas Profesi Kependidikan
      • Tugas Matematika 2
      • Tugas Bahasa Inggris
      • Artikel Penyakit Guru yang Banyak di temui Pada Gu...
      • Powerpoint tugas Ke-PGRI-an
      • Tugas Ke-PGRI-an
      • Artikel Kesehatan
      • Tugas Kepribadian Anak
      • Tugas Powerpoint Pendidikan Pancasila
      • Tugas PKN 2
      • Tugas Bahasa Indonesia 2 (Buku Mamalia)
      • Tugas Aplikasi Komputer
      • Makalah Media Pembelajaran
    • ►  September (8)

Profil ku

Unknown
Lihat profil lengkapku

Copyright (c) 2010 Gudang Baca. Design by Template Lite
Download Blogger Templates And Directory Submission.