|
Be Your Self
Termenung
ku sambil menatap bayangan yang ada di kaca, badan kurus sekurus triplek, kulit
hitam sehitam abu gosok, dan jerawat yang menggerombol seperti pasukkan perang yang
akan bertempur. Huuft, menyebalkan sekali rupaku ini, kenapa aku terlahir
dengan keadaan seperti ini? Ku selalu menggerutu sendiri tiada hentinya didepan
kaca. Seakan-akan aku ingin menggati rupa ini dengan wajah artis di televisi
yang putih, mulus, dan cantik.
Inilah diriku, Renata Dwi Yastika yang sering
dipanggil oleh orang-orang dengan sapaan Yastika si imut alias item mutlak.
Sebel dan dongkol sekali hati ini dengan kata panggilan yang membuatku menjadi
naik darah, tapi apa mau dikata lagi.
Sekarang ku belajar di Universitas yang
ternama di Yogyakarta, sebagai mahasiswa semester 2. Aku mengambil jurusan
Pendidikan Matematika, karena diriku lebih menyukai angka-angka dan pemahaman
logika daripada politik ataupun karya sastra.
Di kampus
Saat
aku duduk bersenda gurau bersama sahabat karibku Tina dan Ela di depan perpustakaan,
aku tak sengaja berjumpa dengan kakak tingkatku yang bernama Yuda Fernando.
Yuda adalah kakak tingkat yang cool, tinggi, putih, dan ganteng. Yuda berjalan
bersama dengan teman-temanya yaitu Ezza dan Fino. Uuuhh, tak sanggup hati ini
melihat Yuda berada di depan mata. Hati ini serasa berdetak kencang seakan mau
copot saja melihat ketampananya. Dia pun hanya sedikit tersenyum kearah ku dan
teman-teman. Seakan-akan dia juga memperhatikan ku dari tadi. Sebenarnya kami
telah saling mengenal, karena dulu dialah yang membina ku waktu ospek.
“Huss, Yas, jangan ngiler deh liat Yuda!”
sindiran Tina kepada ku yang sedang melihat ketampanan Yuda.
“Hehehehe” hanya dapat membalas sindiran Tina
dengan tersenyum. Waktu pun menunjukkan pukul 13.00 saatnya mata kuliah
matematika.
Di rumah
Aku kembali mengambil kaca hias ku yang sudah
biasanya menjadi rutinitasku mengaca dikala meratapi nasib. Sambil bertanya
dalam hati “apakah bisa si buruk rupa ini dapat bersanding dengan si tampan
itu?”. Raut wajah ku muram seakan-akan dapat menjawab pertanyaan ku sendiri
dengan jawaban “tidak mungkin!!!”.
Mama tertawa melihat tingakah ku yang
bertingkah kebingungan sendiri.
“Aaah
mama jangan diketawain dong”.
“Hehehe, la habisnya kamu itu lucu yas, kok
cemberut liat kacanya?” tanya mama kepadaku.
“Aku ini cantik enggak sih mah?” tanya ku
kepada mama.
“Loh kok tanya seperti itu? Ya jelas cantiklah
anak mama, kata siapa Yastika jelek?”
Dalam hati ku, pasti mama cuma bohong biar
menyenangkan hati ku saja.
Sudah lama ku menyimpan rasa ini kepada Yuda semenjak dia dulu menjadi
pembina ospek ku, namun apa mau dikata. Bagai si buruk rupa yang tak ingin
menyampaikan perasaannya kepada sang pujaan hati.
Didalam pikiran ini terlintas ide yang mungkin
dapat menarik hati Yuda agar dapat menaruh hati ke diriku. Aku pun mencari cara
untuk memutihkan kulit ini yang seperti abu gosok hitam pekat, agar nampak
putih bercahaya, bersih dan mulus dalam waktu sesingkat-singkatnya seperti
artis-artis yang ada di televisi. Membayangkannya saja aku senang sekali kalau
diriku ini bisa putih seperti Arumi Bachin, hahahaha sepertinya khayalan ku
terlalu tinggi. Tapi aku akan berusaha untuk mencerahkan kulit ku ini seputih
mungkin agar dapat menarik hati Yuda.
Keesokkan harinya, aku pergi kerumah Ela.
Disana aku ngobrol dan menceritakan keinginanku yang nekat akan memutihkan
kulitku ini.
“Kamu beneran Yas, mau mutihin kulit item mu
ini. Padahal kamu manis loh dengan kulit hitam pekat mu ini?” kata Ela sambil
melihat kulitku.
“Ya beneran lah El, aku pengen beneran jadi
putih.”
“Heeeem, aku punya kenalan dokter kulit di
Solo! dia sih cukup terkenal dan ahli di bidang kecantikan.”
“Wah aku mau El nyobainnya. Besok aku dianter
kesana yaaah”.
“Siaap tuan putri!”.
Setelah itu, beberapa hari kemudian aku pergi
bersama Ela ke tempat dokter itu. Aku mulai melakukan perawatan. Mulai dari
suntik collagen, masker kulit dan berbagai macam perawatan kulit.
1 bulan setelah aku rutin melakukan treatment
dari dokter, mulai nampaklah kulit ini sedikit bersih dan cerah. Aku menjadi
semangat dan akan melakukan treatment itu lebih rutin agar mendapatkan hasil
kulit yang putih.
Setelah berbulan-bulan akhirnya, hasil usaha
ku tak sia-sia juga. Kulit hitam pekat ku ini telah bermetamorfosis menjadi
kulit putih bercahaya. Aku sangat senang sekali dengan hasil perubahan ini dan
sekarang aku juga pede memakai baju-baju yang berwarna cerah, udah ga kayak
dulu lagi yang minder dengan warna-warna cerah. Saatnya aku untuk mendekati Yuda,
sang pujaan hati.
Di kampus
Diparkiran kampus aku tidak sengaja bertemu
dengan Yuda, aku harap kali ini dia akan menyapa ku dan mengajak ngobrol karena
aku sekarang ini telah putih dan bukan Yastika si kulit hitam.
Aaaah, sial nasib. Sudah berlagak-lagak menyapanya,
Yuda malah tak merespon aku malah membuang muka. Sungguh membuat bimbang hati
ini. Namun dengan tekat yang kuat aku harus memanggilnya dan mengajaknya mengobrol.
“Yuda……………….!”
“Maaf, anda ini siapa ya?” jawab Yuda
“Loh dulu kamu pembinaku ospek, dulu kamu juga
sering tersenyum kepadaku, tapi sekarang kok malah tidak tersenyum lagi, sudah
lupa dengan ku? Bahkan membuang muka tadi melihatku!”
“Oh, jangan-jangan kamu ini Yastika?”
“Iya…iya..iya, benar aku Yastika”.
“Kok sekarang kamu putih? dulu kamu kan item
manis? Berbeda sekali, sampai-sampai aku pangling tidak mengenalimu.”
Batin ku senang sekali Yuda menilai aku dulu
item manis, baru kali ini ada lelaki yang menilai ku seperti itu. Apa aku
sampaikan saja ya, apa yang aku rasakan dan aku pendam dari dulu. Tapi
malu-maluin juga deh. Waktu uda nunjukin pukul 13.00 saatnya masuk nih, tanpa
dosa aku pergi meninggalkan Yuda sendiri di parkiran karena jam perkuliahan
telah dimulai waktu itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku
menerima sepucuk surat bewarna biru, yang isinya merupakan komentar dari Yuda
ke diriku. Didalam surat itu dituliskan bahwa Yuda kaget melihat perubahan drastis
yang nampak pada diriku. Yuda lebih menyukai ku dengan ku yang dulu, item manis
dan apa adanya. Bukan yang sekarang, Yastika si putih. Karena Yuda memiliki tipe cewek yang
item manis. Disurat itu juga menyebutkan bagaimana dahulu pertama kalinya
bertemu dengan ku, Yuda telah menyimpan rasa cintanya ke diriku, namun tak
berani mengungkapkanya karena takut akan diriku yang tak mau menerima cintanya.
Dan sekarang Yuda tidak menyukai ku dengan perubahan yang terjadi pada ku.
Aaaah, nyesek rasanya baca surat dari Yuda
ini. Aku uda berusaha mati-matian buat putihin kulit ini. Ternyata dia juga
suka aku, tapi suka aku yang dulu si hitam pekat. Bukan yang sekarang Yastika
si putih. Kenapa juga aku ga deketin dia dari dulu mungkin malah bisa jadian
dari dulu deh tanpa harus putihin kulit segala. Tapi mau bagaimana lagi, nasi
sudah menjadi bubur. Ini akan ku jadikan menjadi pelajaran hidupku saja.
Karya : Diah Ayu Retnaningsih/ PGSD UPY



Posting Komentar