skip to main | skip to sidebar

counter

Pages

  • Beranda
  • Profil
  • Album Foto
  • Keterampilan Berbahasa

Gudang Baca

Tugas IPS 1

04.49 | Publish by Unknown



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

       Bagian selatan wilayah kabupaten Bantul merupakan kawasan pesisir Parangtritis yang memiliki keanekaragaman ekosistem dan potensi alamnya. Sedangkan bagian di sebelah barat pantai Pantai Parangtritis kurang lebih 1,5 km merupakan Pantai Depok. Yang terkenal dengan wisata kulinernya dengan menu utama seafood. Di Pantai Depok sendiri juga terdapat pasar tradisional yang menjual hasil kelautan dan perikanan.
Sedangkan di Pantai Parangkusumo sendiri memiliki wisata budaya yang terkenal dengan ritual labuhan. Ritual labuhan menjadi daya tarik wisatawan yang mengujungi Pantai Parangkusumo. Selain wisata budaya pantai parangkusumo juga mempunyai fenomena alam yang sering disebut dengan batu singapan berupa bongkahan besar batu vulkanik serta sumber air panas.
       Sebagian masyarakat pesisir di parangtritis masih bermata pencaharian sebagai petani dengan menanam cabai dan bawang merah. Sebagian lagi bermata pencaharian sebagai nelayan dan usaha sektor pariwisata yang berpusat di Pantai Depok.
Kekayaan wilayah pesisir Parangtritis ditunjukkan dengan adanya gumuk pasir. Gumuk pasir paragtritis merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.
      Oleh karena itu Laboraturium Geospasial Pesisir Parangtritis didirikan untuk melestarikan gumuk pasir dan membantu mengelola wilayah pesisir melalui dana geospasial. Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis merupakan wujud kerjasama antara Badan Informasi Geospasial (BIG) yang dulunya dikenal dengan nama Bakosurtanal, dengan Fakultas Geografi UGM dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Tugas utamanya adalah melakukan riset yang berhubungan dengan segala sesuatu tentang kepesisiran. Diantaranya tentang gumuk pasir yang membentang luas di pesisir pantai desa Parangtritis dan merupakan satu fonomena alam yang unik, peta potensi ikan bagi nelayan dan pembuatan basis data spasial. 
        Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis yang mengelola kawasan gumuk pasir dan hasil riset kawasan pantai di Indonesia, dalam pengelolaannya saat ini dan ke masa depan, membagi kegiatannya ke dalam empat bidang, yaitu: Unit Penelitian Pengembangan (Litbang) Teknologi Survei Pemetaan (Surta) Pesisir, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, serta Museum dan Eksibisi.
B.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan laboratorium geospasial pesisir parangtritis?
2.      Apa yang dimaksud dengan gumuk pasir?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui laboratorium geospasial pesisir parangtritis.
2.      Untuk mengetahui gumuk pasir
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Laboratorium Geospasial
      Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis yang di bangun pada tahun 2006 merupakan pusat riset kepesisiran yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial yang berkerjasama dengan Fakultas Geografi UGM dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Salah satu bagian di dalamnya adalah Museum Alam Gumuk Pasir sebagai daya tarik untuk wisata pendidikan.
Tugas utamanya adalah melakukan riset yang berhubungan dengan segala sesuatu tentang kepesisiran. Diantaranya tentang gumuk pasir yang membentang luas di pesisir pantai desa Parangtritis dan merupakan satu fonomena alam yang unik, peta potensi ikan bagi nelayan dan pembuatan basis data spasial.
       Laboraturium Geospasial Pesisir Parangtritis memiliki tujuan:
1.      Melaksanakan riset kolaboratif sumberdaya.
2.      Pesisir dan Laut untuk pengembangan IPTEK.
3.      Berbasis informasi geospasial.
      Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis yang berlokasi di tengah bentang alam gumuk pasir Pesisir Parangtritis Yogyakarta adalah satu-satunya Laboratorium Geospasial Pesisir di Indonesia. Laboratorium yang terletak diatas lahan pasir seluas 2 ha di dusun Depok desa Parangtritis ini, terdiri dari 6 unit bangunan utama. 1 unit bangunan untuk kantor, 1 unit yang berbentuk piramid untuk ruang pertemuan yang juga bisa digunakan unutk kegiatan penyuluhan, seminar dan diskusi, 1 unit bangunan museum tentang segala jenis pasir pantai dan bebatuan serta karang laut, 1 unit bangunan yang menghubungkan bangunan piramid dengan museum yang dikenal dengan lorong pengetahuan, 1 unit kantin dan 1 unit mess.
       Bangunan Laboraturium Geospasial Pesisir Parangtritis memiliki bangunan utama, ketiganya memiliki unsur filosofi yang bernilai sebagai proses terbentuknya gumuk pasir. Bangunan berbentuk pyramid atau kerucut menggambarkan gunung merapi yang sering erupsi dan menghasilkan pasir. Pasir dari gunung merapi tersebut mengalir ke laut melalui kali Opak, yang digambarkan dengan bangunan lorong pengetahuan. Sedangkan museum pameran yang memamerkan jenis bebatuan, pasir dan karang laut, menggambarkan gumuk pasir yang ada di Parangtritis. Pasir yang terbawa ke laut dihempas kembali ke tepian oleh gelombang laut dan setelah kering tertiup oleh angin tenggara yang cukup kuat sehingga terbentuklah gumuk pasir itu.
B.     Gumuk Pasir
      Secara umum pengertian gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin. Gumuk Pasir di Pesisir Parangtritis adalah sebuah kawasan yang terbentang sepanjang 15,7 kilometer dari hilir Sungai Opak menuju Pantai Parangtritis dan 2 kilometer dari garis pantai, berisikan hamparan pasir halus. Dengan kata lain, ini sangat mirip dengan gurun pasir yang terdapat di Arab. Gumuk pasir paragtritis merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan:
1.      Karena proses alam yang unik, komplek dan langka.
2.      Karena posisi pantai terbuka terhadap laut lepas dengan tiupan angin kencang setiap waktu.
3.      Karena ada sumber materi pasir yang berlebihan dari daerah hulunya berupa pasir vulkanik terbawa oleh sistem sungai ke muara.
4.      Karena pangaruh “site” Geografi wilayah yakni wilayah pesisir dan ada bukit kapur (karst) dengan lereng curam/terjal.
     Gumuk pasir dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material utama, kecepatan angin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir, dan permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir, biasanya terbentuk di daerah arid (kering).
1.      Proses Terbentuk Gumuk Pasir
      Proses terbentuknya gumuk pasir di Parangtritis berawal dari Gunung Merapi yang bererupsi atau mengeluarkan material vulkanik. Material tersebut berupa awan panas beserta debu, pasir, lahar panas, lahar dingin dan batu-batuan yang mengalir ke sungai-sungai yang berhulu di Merapi, seperti Sungai Bedog, Boyong, Opak, Gendol, dan lain-lain. Sungai-sungai yang membawa material vulkanik berkumpul membentuk suatu daerah aliran sungai dan menuju kearah muara Opak.
      Sampai di muara, material vukanik tersebut dihantam ombak laut selatan yang menggerus pasir menjadi butiran pasir menjadi butiran halus. Deburan ombak dapat mengubah pasir menjadi butiran sangat halus berukuran 0,2 mikron, sehingga mampu diterbangkan oleh angin dengan kecepatan 2 m/s.
       Aktivitas ombak dalam pembentukan gumuk pasir tidak terhenti sampai disini saja. Pasir halus yang sudah terbentuk tadi kemudian diendapkan menuju ke tepi pantai. Sesampainya di tepi pantai, pasir yang basah tersebut mengalami pengeringan secara terus menerus oleh sinar matahari. Pasir yang kering terbawa tiupan angin menuju daratan.
       Pasir yang terbawa angin mengendap di daratan secara terus menerus. Endapan semakin banyak dan berkurang menjadi gundukan-gundukan pasir. Gundukan ini kemudian disebut gumuk pasir (bukit pasir). Gumuk pasir yang terbentuk memiliki cirri khas sesuai arah hembusan angin. Adanya bukit karst yang terletak disebelah timur Parangtritis menyebabkan hembusan angin dari arah tenggara lebih kuat sehingga pola gumuk pasir menghadap kearah tenggara.

2.      Bentuk Gumuk Pasir
Gumuk pasir yang berada di pesisir Parangtritis memiliki bentuk yang bermacam-macam akibat dari perubahan arah angin.
a.     Gumuk pasir tipe Sabit (Barchan)
                Terbentuk pada daerah yang terbuka atau tidak memiliki bannier, besarnya kemiringan lereng daerah yang menghadap angin lebih landai disbanding kemiringan yang membelakangi angin.
b.    Gumuk pasir tipe Parabola (Parabolic)
          Berkebalikan dari tipe Barchan, yaitu keiringan lereng yang menghadap arah angin lebih curam, akibat banyak penghalang seperti pepohonan.
c.     Gumuk pasir tipe Memanjang (Longitudional)
          Yaitu gumuk pasir yang berbentuk lurus sejajar dengan arah angin. Gumuk pasir ini berkembang karena berubahnya arah angin dan terdapat celah diantara bentukan gumuk pasir awal.
d.   Gumuk pasir Melintang (Transverse)
       Terbentuk pada daerah tidak berpenghalang dan banyak cadangan pasir, serta bentuk gumuk pasir ini menyerupai ombak dengan arah tegak lurus terhadap angin.
      Bentuk gumuk pasir yang sering ditemukan di daerah Pantai Parangtritis menyerupai tipe sabit (barchan) dan tipe memanjang (longitudinal). Kadang kala ditemukan pula bentuk parabola dan sisir. Pembentukan pasir itu antara lain dipengaruhi oleh ukuran butiran pasir, tingkat kekeringan, kecepatan dan intensitas angin, serta keberadaan vegetasi yang menutup lahan. Realita yang terjadi sekarang faktor bangunan rumah dan gubuk-gubuk di pinggir pantai turut andil terbentuknya gumuk pasir sebagai pengganti faktor vegetasi pantai. Banyaknya bangunan pemukiman penduduk yang mendesak ke arah pantai selain dapat merusak ekosistem pantai juga merupakan ancaman bagi konservasi parangtritis sebagai laboratorium geospasial pesisir parangtritis.
3.      Syarat Pembentukan Gumuk Pasir:
a.    Pantai landai,
b.    Tersedia pasir sebagai pemasok material,
c.    Gelombang mampu menghempaskan pasir ke darat,
d.   Arus sepanjang pantai kuat, beda air pasang dan surut cukup besar,
e.    Ada perbedaan tegas antara musim kemarau dengan musim hujan.







BAB III
PENUTUP
A.    Penutup

       Keanekaragaman ekosistem dan potensi alam yang sudah dimiliki dan keunikan alam gumuk pasir yang berada di sebelah barat Pantai Parangtritis Yogyakarta memang layak untuk dijaga kelestariannya dan sekaligus menjadi tempat untuk penelitiaan yang berkaitan dengan pesisir pantai, khususnya yang ada di Indonesia. Kawasan gumuk pasir tersebut diyakini terbentuk dalam waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Gumuk pasir di pantai Parangtritis ini awal mula terjadi dari letusan gunung Merapi yang terjadi ribuan tahun lalu. Endapan pasir itu terbawa oleh sungai Opak yang melintas di beberapa wilayah di Yogyakarta hingga ke wilayah Bantul sebelum akhirnya menuju ke laut Selatan (Samudra Hindia). Sesampainya di laut Selatan, endapan pasir tersebut terus-menerus diombang-ambingkan ombak. Pada saat itulah, pasir-pasir lembut terbawa oleh angin dan terhempas di sekitar pantai dan terbentuknya gumuk pasir.
Itulah sebabnya proses terjadinya gumuk pasir di pantai Parangtritis Yogyakarta ini dianggap unik dan tidak dijumpai di tempat lain.
      Laboraturium Geospasial Pesisir Parangtritis didirikan untuk melestarikan gumuk pasir dan membantu mengelola wilayah pesisir melalui dana geospasial. Tugas utamanya adalah melakukan riset yang berhubungan dengan segala sesuatu tentang kepesisiran. Diantaranya tentang gumuk pasir yang membentang luas di pesisir pantai desa Parangtritis dan merupakan satu fonomena alam yang unik, peta potensi ikan bagi nelayan dan pembuatan basis data spasial. 
      Sehingga Kekayaan kawasan pesisir pantai yang ada di berbagai wilayah di Indonesia pantas untuk terus dikembangkan demi kemakmuran rakyatnya. Untuk itu kehadiran Laboratorium Geospasial di Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi lokasi penelitian dan pengembangan kawasan pesisir pantai. Selain itu tentunya diharapkan Laboratorium Geospasial ini juga dapat dijadikan obyek wisata pendidikan dan tempat rekreasi yang berbeda dengan tempat-tempat lain, sehingga menambah wawasan masyarakat luas, khususnya yang berkaitan dengan pengetahuan geografi.

B.     Saran
1. Lebih ditingkatkan lagi mengenai sarana dan prasarana yang ada di dalam   Laboraturium Pesisir Geospasial Parangtritis demi menunjang fasilitas yang memadai.
2. Adanya motivasi untuk masyarakat dan dorongan menjaga kelestarian gumuk pasir di kawasan Parangtritis Kretek Bantul. Karena luasan gumuk dari tahun ke tahun terus menyusut, akibat perilaku manusia.
3. Realita yang terjadi sekarang faktor bangunan rumah dan gubuk-gubuk di pinggir pantai turut andil terbentuknya gumuk pasir sebagai pengganti faktor vegetasi pantai. Banyaknya bangunan pemukiman penduduk yang mendesak ke arah pantai selain dapat merusak ekosistem pantai juga merupakan ancaman bagi konservasi parangtritis sebagai laboratorium geospasial. Sebaiknya lebih ditata ulang kembali agar tidak mengganggu alaminya gumuk pasir.


DAFTAR PUSTAKA

www.bantulbiz.com
http://www.tembi.org/museum-prev/gumuk_pasir2.htm
http://www.bakosurtanal.go.id/laboratorium-geospasial-pesisir-parangtritis/








Label: Semester 3 0 komentar
0 Responses

Posting Komentar

« Posting Lebih Baru Posting Lama »
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Angry Birds

Diberdayakan oleh Blogger.

Lencana Facebook

Diah Ayu Retnaningsih

Buat Lencana Anda

Statistik

Maukie - the virtual cat

Kategori

  • Cerpen (2)
  • Keterampilan Berbahasa (4)
  • Kumpulan Artikel (15)
  • Resep Masakan (11)
  • Semester 1 (1)
  • Semester 2 (11)
  • Semester 3 (3)

Blog Archive

  • ►  2014 (2)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2013 (46)
    • ▼  Desember (5)
      • Tugas IPS 1
      • Cerpen Liburan Huda
      • Makalah Bahasa Indonesia 1
      • Keterampilan menyimak
      • Keterampilan Berbicara
    • ►  November (33)
    • ►  September (8)

Profil ku

Unknown
Lihat profil lengkapku

Copyright (c) 2010 Gudang Baca. Design by Template Lite
Download Blogger Templates And Directory Submission.