|
MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
Untuk memenuhi tugas
Bahasa Indonesia I
Diampu oleh: Dr.
Sunarti, M.Pd.

Oleh
Diah Ayu Retnaningsih
12144600140
A4/12
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH
DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini guna memenuhi tugas mata
pelajaran Bahasa Indonesia.
Kami sadar bahwa dalam menyusun
karya ilmiah ini tidak lepas dari bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini perkenankanlah kami meyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1.
Ibu Dr. Sunarti, M.Pd. yang
penuh kesabaran telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dalam
penyusunan karya ilmiah ini.
2.
Teman-temanku yang
senantiasa mengiringi kesuksesanku.
3.
Semua pihak yang telah
membantu penyusunan karya ilmiah ini.
Kami
mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan dalam penyusunan
karya ilmiah ini.
Kami
menyadari bahwa penyusunan karya ilmiah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu
atas saran dan kritik yang membangaun sangat kami harapkan demi kebaikan dan
kesempurnaan karya ilmiah ini. Terima kasih.
Yogyakarta,11 Desember 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI ..............................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang......................................................................................
B.
Rumusan Masalah.................................................................................
C.
Tujuan ..................................................................................................
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif ....................................................
B. Prinsip Dasar dan Ciri-ciri
Pembelajaran Kooperatif............................
C. Langkah-langkah Pembelajaran
Kooperatif..........................................
D.
Model-model Pembelajaran Kooperatif................................................
E. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif..........................
BAB III
A. KESIMPULAN....................................................................................
B. SARAN................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia,
serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi
pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi
lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati
generasi.
Tujuan
pendidikan adalah memberikan arah segenap kegiatan pendidikan dan merupakan
sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta
didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang
hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Kegiatan
pembelajaran merupakan kegiatan yang utama dalam proses pendidikan di sekolah.
Keberhasilan pendidikan banyak tergantung pada kualitas pelaksanaan proses
pembelajaran. Semua pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan tentu
berharap agar setiap siswa dapat mencapai hasil belajar yang baik, sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai
hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Pembelajaran baru dapat dikatakan berhasil jika mampu melampaui batasan
terendah secara signifikan. Upaya untuk mencapai target hasil belajar yang
optimal itu dapat diupayakan melalui inovasi pembelajaran yang mampu memberikan
penguatan konsep yang maksimal kepada siswa.
Pada dasarnya, penerapan metode mengajar yang bervariasi berupaya untuk
meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar dan sekaligus sebagai salah satu
indikator peningkatan kualitas pendidikan. Namun perlu diketahui bahwa tingkat
keberhasilan siswa dalam menangkap pelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor,
baik faktor dari luar maupun faktor dari dalam siswa itu sendiri. Metode
pengajaran yang baik hendaknya disesuaikan dengan karakteristik materi pokok
yang akan disampaikan. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu metode pembelajaran
yang diharapkan dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu
pengetahuan untuk siswa secara efektif. Penerapan metode-metode mengajar yang
bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran.
Berkaitan dengan semakin perlunya reformasi model pembelajaran dan mengingat
pentingnya interaksi kooperatif tersebut, maka pembelajaran strategi
pembelajaran kooperatif dalam pendidikan sangat penting.
Pembelajaran koopeatif mempunyai syarat-syarat untuk mencapai hasil yang
maksimal yaitu, adanya perbedaan etnik/ras, bersifat heterogen, adanya rasa
tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi
proses kelompok.
Maka perlu adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa
aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa cara antara lain : diskusi, presentasi, debat pendapat dan sebagainya
sehingga kegiatan belajar mengajar yang berlangsung aktif dan siswa tidak cepat
mengalami kebosanan.
Pembelajaran kooperatif adalah aktifitas belajar kelompok yang diatur
sehingga pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antar anggota
dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompok dan dirinya
sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajaran lainnya.
Metode pembelajaran kooperatif dipandang
efektif menciptakan interaksi yang positif dan terstruktur dalam menciptakan
masyarakat belajar (Learning Community).
Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari teman (tutorial sebaya). Namun untuk
menciptakan suasana belajar kooperatif bukan suatu pekerjaan yang mudah. Untuk
menciptakan suasana belajar tersebut diperlukan pemahaman filosofis dan
keilmuan yang cukup disertai dedikasi yang tinggi serta latihan yang cukup
pula.
Berangkat
dari latar belakang tersebut kami akan menjelaskan tentang pembelajaran
kooperatif. Dimana model pembelajaran ini dapat diterapkan didalam kegiatan
belajar mengajar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian pembelajaran kooperatif?
2.
Apa prinsip dasar dan ciri-ciri pembelajaran kooperatif?
3.
Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran kooperatif?
4.
Apa saja model-model pembelajaran kooperatif?
5.
Apakah kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif?
C.
Tujuan
Dalam makalah ini penulis ingin menjelaskan:
A.
Pengertian dari pembelajaran kooperatif.
B.
Prinsip dasar dan ciri-ciri pembelajaran kooperatif.
C.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif.
D.
Model-model pembelajaran
kooperatif.
E.
Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Cooperative
learning berasal
dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama
lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Slavin (Isjoni, 2007:15)
mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran
dengan sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif.
Anita Lie (Isjoni, 2007:16) menyebut pembelajaran
kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu suatu sistem
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama
dengan siswa lain dalam mengerjakan tugas-tugas.
Menurut Johnson (Isjoni, 2007:17), pembelajaran
kooperatif adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok
kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal dan mempelajari
satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Suprijono (2010:54)
menyatakan bahwa, pembelajaran
kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.
Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana
guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan
dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah
yang dimaksud.
Guru biasanya menempatkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu model yang dapat
digunakan untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Selain itu, pembelajarannya dapat mengaktifkan siswa yang tidak dapat
bekerjasama dengan orang lain. Model pembelajaran koopertif ini dapat digunakan
dalam berbagai mata pelajaran dan berbagai usia.
Dari
pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka pembelajaran kooperatif dapat
diartikan sebagai suatu sistem pembelajaran dimana para siswa berkesempatan
untuk saling bekerja sama dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari 4-6
orang yang bersifat heterogen untuk menyelesaikan tugas tersruktur dimana guru
hanya bertindak sebagai fasilitator saja.
B. Prinsip Dasar dan Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
1.
Prinsip
dasar pembelajaran kooperatif
Dalam menerapkan model pembelajaran
kooperatif di dalam kelas, ada beberapa prinsip mendasar yang perlu
diperhatikan dan diupayakan oleh guru sebagai perancang dan pelaksana
pembelajaran dengan menggunakan model ini.
Menurut Nurhadi dan Senduk (2003) prinsip-prinsip tersebut adalah:
a.
Saling
ketergantungan yang positif
Untuk menciptakan
kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian
rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya
sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dalam metode Jigsaw, Aronson menyarankan jumlah anggota
kelompok di batasi sampai dengan 4 orang saja, dan keempat anggota ini di
tugaskan membaca bagian yang berlainan. Keempat anggota ini lalu berkumpul dan
bertukar informasi. Selanjutnyan, pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai
seluruh bagian. Dengan cara ini mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung
jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.
b.
Tanggung
jawab perorangan
Konsep ini merupakan akibat langsung dari konsep yang
pertama. Jika tugas dan pola penilaian di buat menurut prosedur model
pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah
persiapan guru dalam menyusun tugasnya.
c.
Penerimaan
yang menyeluruh oleh siswa
tentang tujuan belajar
Guru hendaknya mampu mengkondisikan kelas agar siswa menerima
tujuan pembelajaran dari sudut kepentingan kelas. Oleh karena itu, siswa
dikondisikan untuk mengetahui dan menerima kenyataan bahwa setiap orang dalam
kelompoknya menerima dirinya untuk bekerja sama dalam mempelajari seperangkat
pengetahuan dan ketrampilan yang telah ditetapkan untuk dipelajari.
d.
Interaksi
yang bersifat terbuka
Dalam
kelompok belajar, interaksi yang terjadi bersifat langsung dan terbuka dalam mendiskusikan materi dan tugas-tugas
yang diberikan oleh guru. Suasana belajar seperti itu akan membantu menumbuhkan
sikap ketergantungan yang positif dan keterbukaan dikalangan siswa untuk
memperoleh keberhasilan dalam belajarnya. Mereka akan saling memberi dan menerima masukan, ide, saran dan kritik dari temannya secara
positif, terbuka, dan membantu untuk saling bekerja sama.
e.
Perumusan
tujuan belajar siswa harus jelas
Sebelum menggunakan strategi pembelajaran, guru hendaknya
memulai dengan merumuskan tujuan pembelajaran dengan jelas dan spesifik. Tujuan
tersebut
menyangkut apa yang di inginkan oleh guru untuk dilakukan
oleh siswa dalam kegiatan belajarnya. Perumusan tujuan harus disesuaikan dengan
tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Tujuan harus dirumuskan dalam bahasa
dan konteks kalimat yang mudah dimengerti oleh siswa secara keseluruhan.
f.
Kelompok
bersifat heterogen
Dalam pembentukan
kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga
interaksi kerja sama yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai
karakteristik
siswa yang berbeda. Dalam suasana belajar seperti ini
akan tumbuh dan berkembang nilai sikap, moral, dan perilaku siswa. Kondisi ini
merupakan media yang sangat baik bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan dan
melatih ketrampilan dirinya dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis.
g.
Tindak
lanjut (follow up)
Setelah masing-masing kelompok belajar menyelesaikan tugas
dan pekerjaannya, selanjutnya perlu dianalisis bagaimana penampilan dan hasil
kerja siswa dalam kelompok belajarnya. Oleh kerena itu, guru harus mengevaluasi
dan memberikan berbagai masukan terhadap hasil pekerjaan siswa dan aktivitas
mereka selama kelompok belajar tersebut bekerja.
h.
Kepuasan
dalam belajar
Setiap siswa dan kelompok harus memperoleh waktu yang cukup
untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilannya.
Apabila siswa tidak memperoleh waktu yang cukup dalam belajar, maka keuntungan
akademis dari penggunakan pembelajaran koopertif akan sangat terbatas (Stahl,
1992). Perolehan belajar siswa pun sangat terbatas sehingga guru hendaknya
mampu merancang dan mengalokasikan waktu yang memedai dalam menggunakan model
ini dalam pembelajarannya.
i.
Tatap muka
Setiap kelompok harus di berikan kesempatan untuk bertemu
muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar
untuk membentuk sinergi yang mengutungkan semua anggota. Hasil pemikiran
beberapa kepala akan lebih kaya dari pada hasil pemikiran dari satu kepala
saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar dari pada jumlah
hasil masing-masing anggota.
j.
Komunikasi
antar anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar di bekali
dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam
kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak
setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu
kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk mengutarakan
pendapat mereka.
k.
Evaluasi
proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya
bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan
setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu
setelah beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran
kooperatif.
2. Sedangkan ciri-ciri model
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a. Siswa dalam kelompok secara
kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang
memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan
rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang
berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
c. Penghargaan lebih menekankan pada
kelompok dari pada masing-masing individu. Dalam pembelajaran kooperatif
dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi
kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling
memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling
menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain.
C. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Penggunaan
pembelajaran kooperatif seharusnya mengikuti langkah-langkah atau prosedur
tertentu dalam penggunaannya. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pembelajaran
kooperatif dapat efektif meningkatkan kemampuan belajar dan hasil belajar
siswa.
Karli dan Yuliariatiningsih (2002:72) mengemukakan
langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1. Guru merancang pembelajaran,
mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai oleh
guru sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran. Guru juga menetapkan sikap dan
keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan oleh guru
selama berlangsungnya proses pembelajaran. Selain itu, guru juga mengorganisir
materi tugas-tugas yang dikerjakan bersama-sama dalam dimensi kerja kelompok
oleh siswa melalui keaktifan semua anggota kelompok.
2.
Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam
belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam penyampaian
materi pelajaran, pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan siswa ketika
belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan konsepsi guru
terhadap siswa secara individual sangat menentukan kebersamaan dari kelompok
yang dibentuk oleh guru dalam proses pembelajaran.
3. Dalam melakukan kegiatan
observasi terhadap siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa, baik secara
individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan
perilaku siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran.
4.
Langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mempersentasekan hasil kerjanya. Guru juga memberikan
penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku sosial yang dikembangkan dan
dilatih oleh para siswa dalam kelas.
D. Model-model Pembelajaran Kooperatif
1.
Model
STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan salah satu
tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan
merupakan model yang paling baik untuk pemulaan bagi guru yang baru menggunakan
pendekatan kooperatif. Dalam model pembelajaran ini siswa dalam kelas
dikelompokkan dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri
dari siswa yang pandai, sedang dann rendah. Disamping itu guru juga
mempertimbangkan heterogenitas kriteria yang lain, seperti jenis kelamin, latar
nbelakang sosial, kesenangan dan sebagainya
a.
Langkah
– langkah model pembelajaran kooperatif STAD:
1)
Guru
menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal.
3)
Guru
membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa dengan
kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang
berbeda serta kesetaraan jender.
4)
Bahan
materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai
kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe STAD, biasanya digunakan untuk
penguatan pemahaman materi (Slavin, 1995).
5)
Guru
memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
6)
Guru
memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
7)
Guru
memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil
belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
2.
Model
Jigsaw
Model ini menggabungkan
kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Pendekatan ini
digunakan dalam beberapa mata pelajaran. Model ini guru harus memperhatikan
skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan
skemata itu agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
a.
Langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif Jigsaw:
1)
Guru
membagi siswa dalam kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok
terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat
kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika mungkin anggota kelompok berasal
dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender. Kelompok ini
disebut kelompok asal. Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas
mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan
materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut
kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
2)
Setelah
siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya
dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah
satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar
guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah
didiskusikan.
3)
Guru
memberikan kuis untuk siswa secara individual.
4)
Guru
memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor
kuis berikutnya (terkini).
5)
Materi
sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi
pembelajaran.
6)
Perlu
diperhatikan bahwa jika menggunakan jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu
dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
3.
Model
NHT (Number Heads Together)
Merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada
stuktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan
memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik dengan melibatkan para
siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam pelajaran dan mengecek pemahaman
mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
a.
Langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif NHT
:
1)
Guru
menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai
kompetensi dasar yang akan dicapai.
2)
Guru
memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar
atau awal.
3)
Guru
membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4–5 siswa,
setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
4)
Guru
mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
5)
Guru
mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor(nama) anggota
kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru
merupakan wakil jawaban dari kelompok.
6)
Guru
memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan
penegasan pada akhir pembelajaran.
7)
Guru
memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual.
4.
Model
GI (Group Investigation)
Model GI (Group
Investigation)
merupakan salah satu bentuk model pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk
mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat
mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini
menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi
maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model GI (Group Investigation) dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri.
Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai
tahap akhir pembelajaran.
E.
Keunggulan dan Kekurangan Pembalajaran
Kooperatif
1.
Keunggulan
Pembalajaran Kooperatif, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Melalui
pembalajaran kooperatif siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan
tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan
informasi dari berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
b.
Pembalajaran
kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c.
Pembalajaran
kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan
segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
d.
Pembalajaran
kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung
jawab dalam belajar.
e.
Pembalajaran
kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan
prestasi akademik sekaligus kemampuan social,termasuk pengembangan rasa harga
diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan
ketrampilan mengatur waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
f.
Melalui
pembalajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide
dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik
memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat
adalah tanggung jawab kelompoknya
g.
Pembalajaran
kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan
kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
h.
Interaksi
selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan
rangsangan untuk berpikir.
2.
Kekurangan Pembelajaran Kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Penilaian
yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok,
sehingga kemampuan masing – masing individu kurang terlihat. Guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi
yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
b.
Keberhasilan
pembelajaran kooperatif dalam upaya
mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup
panjang. Dan hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali atau
sekali-sekali penerapan strategi ini.
c.
Walaupun
kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang
hanya didasarkan kepada kemampaun secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui
pembalajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus
belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.
d.
Hanya menjadi tempat mengobrol atau menggosip
saja. Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan
dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau menggosip membuat waktu berlalu
begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
e. Banyak siswa takut
bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang
harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam model pembelajaran
kooperatif pembagian tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat
mempresentasikan apa yang telah didapatnya dalam kelompok sehingga ada
pertanggungjawaban secara individu.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran kooperatif
merupakan metode yang menekankan pada pentingnya sikap kerja sama di antara
siswa dalam memecahkan suatu permasalahan yang ada pada mata pelajaran. Model pembelajaran ini dapat
diterapkan pada bermacam-macam kelompok usia. Namun model pembelajaran kooperatif membutuhkan
beberapa macam tuntutan baik terhadap guru, siswa maupun suasana kelas.
Guru memiliki
peranan penting dalam menciptakan suasana
kooperatif
di dalam lingkungan kelas. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan yang
mumpuni dalam menciptakan metode pembelajaran yang cukup rumit ini. Dalam memulai pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif, maka guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan
menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai. Guru juga menetapkan sikap
dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan dan
diperlihatkan oleh siswa selama pembelajaran berlangsung. Guru kemudian
mengorganisasikan materi tugas yang akan dikerjakan bersama-sama dalam kelompok
dengan mengembangkan lembar kerja siswa. Untuk memulai pembelajarannya, guru
menjelaskan tujuan yang harus diperlihatkan siswa terlebih dahulu.
Dalam
menyampaikan materi pembelajaran, pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan
siswa ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan
perlakuan guru terhadap siswa secara individual sangat menentukan kebersamaan
dari kelompok yang terbentuk.
B.
Saran
1. Guru
hendaknya membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan dari berbagai informasi
yang didapat dan mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran.
2.
Guru hendaknya memotivasi siswa untuk berani
mengemukakan pendapat, mendorong siswa untuk memecahkan masalah berdasarkan
kemampuannya sendiri.
3.
Guru hendaknya mampu menjadi fasilitator dan
mediator dalam setiap kegiatan belajar mengajar, mampu memberikan
masukan-masukan dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
4. Guru
hendaknya mampu menerapkan metode yang tepat dalam mengajar yang mampu
memberikan dampak yang baik terhadap hasil belajar.
5. Siswa
hendaknya lebih kreatif dalam memanfaatkan media pembelajaran yang ada di
sekolah dan di luar sekolah.
6. Siswa
diharapkan mampu menentukan cara belajar yang sesuai dengan kemampuannya.
DAFTAR PUSTAKA
Jasmine
Julia. 2007. Mengajar
Berbasis Multiple Intellegences. Bandung: Nuansa.
Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model-model
Pembelajaran), Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu
SLTP.
Indra Jati Sidi. 2004. Pelayanan
Profesional, Kegiatan-Belajar Mengajar yang Efektif.
Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Lie, A. 2002. Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas.
Jakarta: Grasindo.
Solehatin Etin. 2008. Cooperative
Learning. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wena Made. 2009. Strategi
Pempelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta Timur: PT Bumi Aksara.



Posting Komentar